Monday, August 13, 2007

Timor Leste dan Soal Bahasa Indonesia

Oleh H. ROSIHAN ANWAR

XANANA Gusmao begitu ditunjuk sebagai Perdana Menteri Timor Leste oleh Presiden Jose Ramos Horta langsung diprotes oleh partai Fretilin dan akibatnya kerusuhan dan pembakaran di Ibu Kota Dili dan di Baccao.

Pasalnya, Fretilin dalam pemilu yang baru berlangsung, hanya meraih 21 kursi dari 65 kursi parlemen, tak cukup untuk memerintah sendiri. Partai Xanana memperoleh 18 kursi dan tidak mau bekerja sama dengan Fretilin dalam sebuah kabinet koalisi. Akhirnya CNRT parpol Xanana membentuk aliansi dengan beberapa parpol lain dan Presiden Horta menggunakan hak konstitusionalnya untuk menunjuk PM. Tapi, akibatnya demo dan huru-hara mengancam stabilisasi dan sekuriti.

Sepertinya Republik Timor Leste tak putus dirundung malang. Selain masalah politik, militer, ekonomi yang meminta perhatian pemerintah ada pula masalah lain yang kurang diketahui oleh kita yang bikin sakit kepala yaitu masalah bahasa, tegasnya bahasa resmi yang diakui oleh konstitusi, jumlahnya dua, Tetum dan Portugis.

Sekitar tiga tahun yang lalu seorang warga Australia, kandidat doktor ilmu politik datang kepada saya untuk mengumpulkan bahan bagi penulisan disertasinya. Ternyata dia ahli dalam soal Timor Leste, sering riset ke negeri itu dan dia bercerita kesulitan yang dihadapi oleh para pelajar sekolah menengah akibat digunakannya Portugis sebagai bahasa pengantar atau pembelajaran. Kebanyakan pelajar dan mahasiswa akibat Timor Timur (Timtim) selama 25 tahun jadi provinsi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak paham bahasa Portugis dan hanya menguasai bahasa Indonesia. Maka, tiap pelajaran yang diberikan harus diterjemahkan dulu dalam bahasa Indonesia. Ini memakan waktu habis terbuang dan energi diarahkan kepada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu bila pemerintah Timor Leste mengambil sikap praktis serta realistis. Ilmuwan Australia itu berkata bahwa pengaruh mendalam bahasa Indonesia tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bahasa Indonesia sudah menjadi alat komunikasi sehari-hari di pasar tempat berdagang, dalam pergaulan di antara warga yang berasal dari daerah dan kota lain yang berbeda-beda.

Saya membaca laporan wartawan Seth Mydans dalam International Herald Tribune (24-7-2007) tentang sidang pengadilan negeri di mana hakim bertanya kepada seorang saksi dalam bahasa Portugis yang tidak dipahaminya, juga tidak oleh terdakwa dalam suatu perkara pembunuhan. Bahasa sehari-hari yang luas dipakai ialah bahasa Tetum dan bahasa Indonesia. Selama seperempat abad bahasa Portugis menjadi bahasa mati, hanya diucapkan oleh generasi yang lebih tua. Setelah Timor Timur jadi negara merdeka tahun 2002, yang tadinya terpinggirkan menjadi arus utama kembali dan arus utama dipinggirkan.

Bahasa buletin resmi Zacharias da Costa (34) dosen dalam manajemen konflik di Universitas Nasional Timor Timur berkata, "Saya telah menyelesaikan dua peringkat bahasa Portugis, tapi saya masih belumb isa mempergunakannya dengan baik hanya bahasa Portugis dasar. Dalam waktu lima tahun, menurut rencana pemerintah, saya harus memberikan semua kuliah dalam bahasa Portugis, suatu bahasa yang nyaris tak terdengar di kampus sini".

Sebuah papan buletin resmi yang terdapat di pintu universitas memuat 14 buah maklumat dari pihak guru. Delapan maklumat ditulis dalam bahasa Tetum, 4 dalam bahasa Indonesia dan, 2 dalam bahasa Inggris. Tidak satu pun yang ditulis dalam bahasa Portugis.

PBB melaporkan pada tahun 2002 bahwa hanya 5 persen dari penduduk Timor Leste yang 800.000 jiwa itu berbicara dalam bahasa Portugis. Dalam sensus tahun 2004, 36 persen mengatakan "mereka punya kemampuan dalam bahasa Portugis". Sebanyak 85 persen mengklaim mampu dalam bahasa Tetum, 58 persen dalam bahasa Indonesia, dan 21 persen dalam bahasa Inggris. UUD baru menyebutkan Portugis dan Tetum sebagai dua bahasa resmi, tetapi Tetum dianggap belum berkembang dan kebanyakan urusan resmi negara dilaksanakan dalam bahasa Portugis. "Ini adalah sebuah keputusan politik, dan saya harus melaksanakannya, suka atau tidak suka," ujar Hakim Maria Pereira dari Pengadilan Negeri Dili yang telah mengikuti kursus kilat bahasa Portugis dan kin menulis vonisnya dalam bahasa Portugis yang lumayan.

Beberapa orang muda yang berbicara dalam bahasa Indonesia yang pada mulanya menentang bahasa Portugis kini mengatakan terima penggunaannya sebagai sebuah stasiun-antara ke arah bahasa Tetum. Sudah 80 persen dari Tetum terdiri atas kata pinjaman Portugis atau kata yang dipengaruhi oleh bahasa Portugis

Suatu rencana lain datang dari Presiden Jose Ramos Horta, salah satu pencipta pemakaian bahasa Portugis sebagai bahasa resmi. "Kini kita harus memikirkan kembali politik bahasa kita. Sebagai langkah pertama, bahasa Inggris dan Indonesia harus diangkat ke status bahasa-bahasa resmi. Saya tak melihat masalah dengan sebuah negara punya empat bahasa resmi. Masalah-masalah bahasa mungkin menyibukkan pikiran Timor Leste selama bertahun-tahun yang akan datang. Sekali rakyat sudah terbiasa akan empat bahasa resmi, kita bisa memberikan kepada rakyat pilihan untuk memilih dua daripadanya sebagai bahasa-bahasa yang diwajibkan," kata Horta.

Saya pikir pemakaian bahasa Indonesia dalam masyarakat Timor Leste tidak akan hilang selama Republik Indonesia memelihara hubungan baik dengan Republik Timor Leste, dan selama hubungan dagang dan pertukaran barang dapat berjalan lancar.***

Penulis, wartawan senior Indonesia.

Pikiran Rakyat, 13 Agustus 2007

1 comment:

H.I.S.H. said...

Kebijakan penggunaan bahasa di Timor Leste memang masalah pelik. Ada 2 alasan mengapa pemerintah Timor Leste menetapkan Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi:
1. Timor Leste ingin menjadi anggota Komunitas Negara-negara Berbahasa Portugis ("Comunidade dos Países de Língua Portuguesa"/CPLP), sebuah organisasi internasional yang beranggotakan Portugal, Brazil, dan sejumlah negara Afrika bekas koloni Portugal lainnya. Melalui keanggotaannya dalam organisasi ini, Timor Leste akan mendapatkan banyak sekali keuntungan, mulai dari bantuan pendidikan, pertukaran budaya, kesempatan memperluas hubungan diplomatik, kesempatan mendapatkan paket bantuan untuk pembangunan sosial, keuangan, kesejahteraan, hingga demokratisasi.
2. Setelah 25 tahun pendudukan ilegal Indonesia di Timor Leste yang diwarnai dengan serangkaian pelanggaran HAM berat dan sistematis oleh TNI, sangat masuk akal jika rakyat Timor Leste menolak menggunakan Bahasa Indonesia lagi karena stigma negatif atas Indonesia sudah tertanam dalam-dalam. Walaupun demikian memang susah menghapuskan Bahasa Indonesia dari Timor Leste karena lebih dari 80% penduduknya memahami Bahasa Indonesia dengan sangat baik, dan Timor Leste masih sangat menggantungkan ekspor-impornya dari Indonesia.

Saya sempat berkenalan dengan seorang Timor Leste yang kuliah di Jakarta. Seluruh percakapan kami dilakukan dalam Bahasa Portugis campur Inggris, karena ia sendiri rupanya tidak begitu fasih dalam Bahasa Portugis, namun memahaminya dgn sangat baik, karenanya jika ia tidak tahu beberapa kata dia akan berbicara dalam Bahasa Inggris. Dia bercerita kalau di Timor Leste tidak ada lagi yang mau berbicara Bahasa Indonesia (walaupun sebenarnya jika ada seseorang yang bicara Bahasa Indonesia mereka paham betul, namun mereka akan menjawab dalam Bahasa Tetum, Portugis, atau Inggris). Dia bercerita bahwa dalam kehidupan sehari-harinya, praktis hanya Bahasa Tetum dan Portugis yang digunakan. Tetum digunakan di rumah, dan Portugis digunakan di sekolah. Inggris pun hanya kadang2 saja ketika mereka bertemu dengan orang2 asing yang tidak bisa Bahasa Portugis atau Tetum. Bahasa Indonesia sudah jarang sekali terdengar.

Sebetulnya masalah ini simpel saja solusinya. Kalau memang belajar Bahasa Portugis akan menimbulkan kesulitan baru bagi generasi muda Timor Leste yang lahir di zaman Soeharto dan karenanya mereka lebih familiar dengan Bahasa Indonesia dibandingkan Bahasa Portugis, namun di sisi lain mereka juga menolak menggunakan Bahasa Indonesia karena mereka benci kita, cukup jadikanlah Bahasa Tetum sebagai satu-satunya bahasa resmi mereka.

Bahasa Tetum ini juga bisa berfungsi sebagai Bahasa Persatuan, karena setiap wilayah di Timor Leste berbicara dalam bahasa Tetum yang berbeda-beda. Dialek dan pemilihan kata setiap orang juga berbeda-beda. Seperti halnya Bahasa Indonesia yang sukses mempersatukan lebih dari 17 ribu pulau di Indonesia, saya yakin Bahasa Tetum juga memiliki fungsi krusial sebagai Bahasa Persatuan di Timor Leste.

Sementara itu, Bahasa Portugis, Inggris, maupun Indonesia dapat diajarkan sebagai bahasa kedua di sekolah-sekolah. Dengan demikian, Timor Leste dapat tetap mempertahankan hubungannya dengan negara2 tetangga: dengan negara-negara anggota CPLP yg berbahasa Portugis, dengan Australia yg berbahasa Inggris, dan dgn Indonesia, Singapur, Brunei, dan Malaysia yg berbahasa Indonesia/Melayu.

Dengan demikian, tidak ada beban yang harus dipikul Timor Leste hanya karena memusingkan soal politik berbahasa seperti ini, sementara masih banyak lagi masalah yang jauh lebih gawat yang masih harus diselesaikan Timor Leste: mulai dari keamanan, pemberontakan, kemiskinan, buta huruf, hingga korupsi.

Salam dari Jakarta!
Viva o Timor Leste!